Berbuat Adil dalam Pemberian dan Hadiah kepada Anak-Anak

  • Beranda -
  • Berbuat Adil dalam Pemberian dan Hadiah kepada Anak-Anak
research

Berbuat Adil dalam Pemberian dan Hadiah kepada Anak-Anak

Perlu diketahui bahwa pemberian kepada anak bisa dibedakan menjadi dua, yaitu:

Pertama, pemberian karena latar belakang kebutuhan. Misalnya, salah satu anaknya mengalami sakit menahun. Tentu saja, pemberian kepada anak ini akan lebih dari anak-anak lainnya yang sehat dan baik-baik saja, karena kebutuhan untuk berobat dan kebutuhan lainnya yang tentu saja lebih membutuhkan perhatian khusus. Dalam kondisi ini, tidak mengapa orang tua mengeluarkan uang lebih banyak untuk anaknya yang sakit dibandingkan untuk anaknya yang sehat.

Akan tetapi, jika anak lainnya yang sehat itu di kemudian hari jugamengalami sakit yang kurang lebih sama, maka wajib diberikan perhatian danbiaya yang sama dengan anak sebelumnya yang sakit. Jika anak sebelumnya berobatsampai dokter spesialis, maka demikian juga dengan anak lainnya yang ikutsakit. Juga wajib dibawa berobat kepada dokter spesialis, tidak boleh hanya dibawa ke Puskesmas, karena orang tua akan terjatuh ke dalam sikap tidak adil terhadap anak-anaknya.

Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

“Diriwayatkan dari Imam Ahmad tentang bolehnya melebihkan pemberian kepada salah seorang anak jika terdapat sebab tertentu, misalnya salah seorang anak membutuhkan biaya pengobatan karena sakit menahun (kronis), membayar hutang,atau yang lainnya.” (Fathul Bari, 5 : 214)

Kedua, pemberian karena semata-mata pemberian (hadiah). Misalnya, ketika orang tua sedang diberi kelapangan rezeki atau pada momen tertentu (seperti lebaran), mereka membagi-bagi uang kepada anak-anaknya. Dalam kondisi ini, wajib adil dalam memberi uang kepada semua anaknya.

Akan tetapi, jika terdapat sebab tertentu, diperbolehkan untuk membedakan pemberian semacam ini. Syaikh Musthafa bin al-‘Adawi hafidzahullahu Ta’ala menjelaskan bahwa dalam kondisi-kondisi yang didasari oleh latar belakang tertentu, boleh bagi orangtua untuk melebihkan hadiah dan pemberian kepada salah seorang anak. Beberapa kondisi yang beliau contohkan adalah berikut ini:

Contoh pertama,ada orang tua memiliki dua orang anak. Anak pertama adalah anak yang shalih, bertakwa, dan bisa mengatur pengeluaran dengan baik, sedangkan anak kedua adalah anak yang nakal dan tidak bisa diatur. Anak pertama suka membelanjakan uang pemberian orang tuanya untuk hal-hal bermanfaat dan amal kebaikan,sedangkan anak kedua lebih  suka membelanjakan uang pemberian orang tua untuk maksiat, hura-hura, minum khamar, zina, dan perbuatan dosa lainnya.

Dalam kondisi ini, boleh bagi orang tua untuk melebihkan pemberian kepada anak pertama sehingga dia mendapatkan lebih dari yang didapatkan oleh anak kedua. Supaya anak kedua tidak semakin sering berbuat maksiat. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolongdalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al-Maidah [5] : 2)

Juga firman Allah Ta’ala,

“Dan Allah tidak menyukai kerusakan.” (QS. Al-Baqarah [2] : 205)

Juga berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim atau yang dizalimi.” Ada laki-laki bertanya, “Wahai Rasulullah, saya menolongnya jika dia dizazlimi. Namun, bagaimana kami menolong orang yang berbuat zalim?” Rasulullah menjawab, “Yaitu Engkau menahannya atau mencegahnya agar tidak berbuat zalim. Itulah cara menolongnya.” (HR. Bukhari no. 6952 dan Muslim no. 2584. Lafadz hadits ini milikBukhari)

Contoh kedua, orang tua yang memiliki dua orang anak. Anak pertama kuliah di luar kota,sehingga membutuhkan biaya sekolah dan biaya hidup yang banyak, sedangkan anak kedua, dia memilih tidak kuliah dan lebih suka membantu orang tua dalam bekerja menambah penghasilan keluarga. Dalam kondisi ini, boleh bagi orang tua untuk melebihkan hadiah kepada anak kedua sebagai kompensasi sehingga kurang lebih sama dengan pemberian (karena kebutuhan) yang telah diberikan kepada anak pertama. (Lihat Fiqh Tarbiyatil Abna`, hlm. 114)

Kesimpulan, hendaknya orang tua bertakwa kepada Allah Ta’ala dalam memberikan kepada anak-anaknya dengan bersikap adil. Jika orang tua berkeinginan melebihkan pemberian kepada salah satu anak dibandingkan anak lainnya, maka hendaknya hal itu karena sebab, alasan, dan faktor pendorong tertentu yang bisa dibenarkan.